“Tidak ada kawan sejati di dalam politik. Yang ada hanyalah kepentingan sejati!”, ujar istri saya waktu makan malam kemarin. Dasar anak IP, obrolan keseharian pun gak jauh-jauh dari urusan politik. Tapi ini juga karena kita nonton debat Partai di tvOne. Hehe, peace ya my love!
Dan kisah nyata dari istri saya berikut ini semakin memperkuat keyakinannya tadi: Jadi begini, istri saya itu bekerja di sebuah institusi pendidikan Muhammadiyah yang kebetulan owner nya tersangkut dengan kasus pembunuhan Munir. Nah sewaktu halal bihalal kemarin, ada pengajian yang diisi oleh kakak beliau. Singkat cerita, ternyata adik nya ini adalah petinggi partai Gerindra dan secara explisit para staf yang mengikuti pengajian diminta untuk nantinya mencoblos Gerindra. Straight forward, to the point! Tanpa tedeng aling-aling.
Menariknya adalah, institusi Muhammadiyah terasosiasi kuat (sekali?) dengan PAN. “Partai nya wong Muhammadiyah yo PAN. Gak ada lagi”, kurang lebih begitu doktrin yang selalu ditanamkan ke para staf-termasuk istri saya ini sewaktu awal-awal mengajar. Bahkan ada staf yang pernah dipanggil oleh sang owner hanya karena disinyalir menjadi partisipan PKS. Tapi kok kemudian ujug-ujug muncul Gerindra? Kok gitu ya? Akhir cerita, pengajian itu akhirnya jadi ajang kampanye terselubung, dan istri saya menyesalkan momentum pengajian syawalan ini bubrah karena hal tersebut.
Dulu sewaktu Liqo’ (yang berarti pertemuan, sebuah upaya kaderisasi dari gerakan Tarbiyah), kisah istri saya kemudian, murobbi nya meminta untuk tidak mencoblos SBY dengan alasan track record toleransi beragamanya yang berlebihan. Nah, 1 minggu kemudian, dewan syuro PKS menginstruksikan untuk mencoblos SBY dalam pilpres dengan alasan SBY better bila dibandingkan dengan kandidat lain. Nah, terlepas dari kebingungan saya apa hubungan gerakan Tarbiyah dengan kaderisasi PKS, tapi jelas kok begitu mudahnya ya kemarin mencela seseorang dan esok hari memujinya..
Karena sejatinya kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan. Di dunia politik, kesamaan kepentingan adalah no. 1, dan kesamaan visi urusan belakangan. Bahkan keluarga sendiri pun bisa jadi musuh politik dan tali silaturahim terputus karena itu. Naudzhubillahi mindzalik..
Original post by awaludinz
