Keberhasilan-keberhasilan Kecil

cuman copy-paste dari http://www.betugee55.net

Apa yang kita rasakan ketika kita mencapai suatu keberhasilan tertentu?
Sudah pasti ceriah. Berbunga-bunga, dan diliputi perasaan senang lainnya. Bahkan seringkali akan timbul greget untuk dapat mengulanginya.
Yang jadi pertanyaan, setelah euforia itu pergi meninggalkan kita, apakah kita benar-benar berusaha untuk dapat menikmatinya lagi? Ataukah yang tertinggal hanya perasaan senangnya saja, tanpa usaha merengkuhnya kembali?

Sungguh, Tuhan dengan keagungan-Nya telah mendidik manusia yang kecil ini dengan Maha Arif. Ia menyuguhkan kita jalan dengan berbagai macam bukti-bukti nyata di dunia. Contoh yang paling kasat mata adalah perkembangan sesuatu dari bentuknya yang kecil menjadi besar.

Dia Yang Maha Tuan telah mengajar kita dengan aneka ragam contoh di bumi ini:

  • Biji tetumbuhan dari yang semula butiran bisa menjadi pancang pohon yang rindang
  • Rajawali dari sebutir telur menjadi raksasa penguasa cakrawala
  • Bayi lahir dengan panjang tak lebih dari diameter bak mandi plastik oval, tumbuh menjadi manusia dewasa
  • Semuanya bermula dari sesuatu yang kecil menjadi besar.

    Dari itu dapat saya pahami bahwa sesuatu yang besar bermula dari yang kecil. Tumbuh dan berkembang.
    Lantas yang jadi pertanyaan, apa hubungannya dengan suatu keberhasilan?

    Setiap manusia pasti pernah punya keinginan untuk berhasil dalam suatu hal. Sukses dalam keinginan, hasrat dan idealisme-idealismenya. Target dan takaran keberhasilan tiap orang mungkin beda, tapi tujuan yang ingin diraih sama, yaitu: BERHASIL.
    Ukuran takaran keberhasilan ada yang kecil dan ada juga yang besar. Lantas apa itu keberhasilan-keberhasilan kecil? Banyak sekali…
    Misalnya:

  • Beribadah tepat waktu
  • Mencuci pirirng sehabis makan
  • Mengerjakan tugas-tugas kuliah
  • Mengepel/menyapu lantai rumah
  • Memberi sedekah kepada peminta
  • Mampu mengerti pelajaran yang baru saja dipelajari
  • Menahan nafsu untuk tidak marah atau sebel kepada orang lain
  • Menyingkirkan batu kerikil atau paku yang bisa menyebabkan bahaya di jalan
  • atau sekedar senyum pada orang lain
  • Daftar di atas adalah pekerjaan-pekerjaan bernilai pahala, tapi pernahkah kita secara sadar menganggapnya sebagai suatu keberhasilan yang pernah kita raih? Insya Allah, seandainya kita sadar disertai dengan keikhlasan sewaktu mengerjakannya, pastinya kita ingin mengulanginya kembali. Karena kalau kita berhasil, kita merasa senang. Sehingga melakukan segala sesuatu menjadi ringan dan menyenangkan, tidak merasa terbebani. Otomatis akan tumbuh semangat untuk mencari keberhasilan-keberhasilan lain yang lebih besar. Sudah pasti pada keberhasilan yang lebih besar terdapat pula kesenangan yang lebih besar. Proses yang demikian dengan sendirinya akan semakin mengasah diri kita. Karena kecil sekali kemungkinannya kita mendapat sesuatu yang besar tanpa melewati hal-hal lain yang lebih kecil daripadanya.

    Setiap orang memegang cita-citanya masing-masing. Dan semua menginginkan keberhasilan. Seandainya keberhasilan adalah suatu kebiasan dalam menjalani hidup dan telah menjadi karakter diri kita, Insya Allah kita akan sanggup meraihnya. Keberhasilan melewati hal-hal kecil itulah jika kita rangkai akan membentuk mental dan semangat untuk menghadapi hal-hal yang lebih besar.

    Resiko…
    Segala hal pasti memiliki atribut resiko dan tantangannya masing-masing. Dari resiko yang kecil sampai ke yang besar. Keberhasilan kecil identik dengan resiko kecil, dan begitu pula dengan yang lebih besar. Aneka ragam resiko mungkin bisa berupa:

  • Rasa malas untuk melakukan suatu hal
  • Mengantuk ketika saatnya belajar
  • Kehilangan harta benda kita
  • atau sampai pada resiko tertinggi, kehilangan nyawa.
  • Sebenarnya tidak perlu khawatir terhadap resiko besar kalau selama ini kita telah mampu terbiasa dengan resiko-resiko kecil? Toh Allah SWT telah berjanji dalam hal ini.
    QS.2.286: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…
    QS.6.152: Penuhilah takaran dan timbangan dengan jujur, karena Kami tidak memberi beban kepada seseorang melainkan menurut kemampuannya

    Allah SWT pun telah berfirman:
    QS:2.214: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

    Mengutip ayat Al Quran di atas, keberhasilan terbesar bagi manusia adalah Jannah, surganya Allah SWT. Sudah barang tentu keberhasilan terbesar tersebut bakal lebih mudah diraih kalau di dunia ini kita sudah familiar dengan keberhasilan-keberhasilan lain yang lebih kecil daripadanya.

    Dan apakah kesenangan terbesar itu? Kesenangan terbesar adalah kesuksesan dalam meraih keberhasilan terbesar.

    Post a Comment

    Your email is never published nor shared.